Kolalisi Pembela Konsumen Tuntut Keadilan. Dikriminalisasi Pakai UU ITE

0
125

Surabaya Newsbin.Com – Koalisi pembela konsumen mendatangi kantor Pengadilan Negri Surabaya di jalan Arjuno. Newsbin, pada Rabu, 21 April 2021 sekitar Pukul 10:00 WIB.

Dalam orasinya mereka mempertanyakan mengapa Dikriminalisasi pakai UU ITE, dimana keadilannya,

Berawal dari kasus Konsumen sebuah klinik kecantikan ternama di Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur harus menjalani pemidanaan yang salah alamat atas kasus pencemaran nama baik.

Konsumen itu, Stella Monica kini menjadi tersangka atas laporan dari pengelola klinik yang berlatar belakang seorang Dokter.

Kasus Stella sekarang di tangan Kejaksaan Tinggi Jawa Timur. Proses pelimpahan kedua dari Polda Jawa Timur berlangsung pada Rabu, 17 Maret 2021 di Surabaya.

Adapun tersangka dijerat dengan Pasal 27 Ayat 3 juncto Pasal 45 Ayat 3 UU 19/2016 tentang Informasi, dan Trasaksi Elektronik.

Peristiwa yang melatari kasusnya adalah keluhan kepada klinik sebagai sebuah badan usaha yang tidak memiliki struktur fisik, dan psikis seperti manusia/perorangan.

Atas hal tersebut, Koalisi Pembela Konsumen menyatakan sikap:

  1. Pelaporan pihak klinik terhadap Stella tidak dapat dibenarkan oleh hukum karena bertentangan dengan objek dari Pasal 27 Ayat 3. Salah kaprah menerapkan pasal pencemaran nama baik untuk Stella karena ia tidak menyebut nama pelapor.
  2. Kejaksaan harus menerbitkan surat ketetapan penghentian penuntutan (SKP2) karena adanya ketidakadilan dalam kasus ini dan pemerintah sedang mengkaji revisi UU ITE karena sejumlah pasal, termasuk 27 Ayat 3 dinilai karet/multitafsir.
  3. Komplain dari konsumen tidak boleh disikapi dengan represif/pemidanaan. Kritik dan saran merupakan hal wajar dari konsumen, sehingga seharusnya disikapi dengan arif dan bijaksana. Hak konsumen sepenuhnya dilindungi oleh UU 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen sehingga seluruh tuntutan terhadap Stella Monica harus dihentikan.

Dalam hal ini koalisi pembela konsumen mendesak pemerintah dan DPR segera mencabut pasal karet dalam UU ITE, menghentikan penyidikan/penuntutan/persidangan serta membebaskan semua korban ketidakadilan atas penerapan pasal karet ini,

Latar belakang kasus, Stella Monica dilaporkan oleh klinik kecantikan L’VIORS Beauty Clinic Surabaya ke Polda Jawa Timur terkait tuduhan melakukan pencemaran nama baik terkait unggahan screenshot/tangkapan layar

Percakapan Stella dengan seorang dokter kulit di Instastory Instagram yang berisikan curahan hati nurani Stella tentang kondisi kulitnya usai melakukan perawatan di klinik L’VIORS Surabaya.

Dalam tangkapan layar tersebut, Stella direkomendasikan untuk menggunakan sebuah produk oleh seorang dokter yang mengkhawatirkan kondisi kulit Stella tanpa bermaksud mencemarkan nama baik klinik kecantikan yang saat ini melaporkannya.

Ia menggungah tangkapan layar pada tanggal 27 Desember 2019 yang kemudian ditanggapi oleh kawan-kawan Stella. Mereka mengaku terkejut karena Stella memutuskan untuk menghentikan perawatan kulitnya

Melihat kondisi kulit wajah Stella yang meradang usai perawatan. Kawan-kawan Stella lalu membagikan pengalaman mereka yang serupa karena pernah melakukan perawatan kecantikan di klinik yang sama

Pada tanggal 21 Januari 2020, Stella menerima surat somasi oleh pengacara klinik L’VIORS Surabaya yang menyatakan bahwa,

“Stella telah mencemarkan nama baik klinik L’VIORS dan harus memenuhi permintaan somasi dari mereka yaitu dengan menerbitkan permintaan maaf di media massa (koran) minimal setengah halaman untuk tiga kali penerbitan berbeda hari,”

Setelah dikirimi somasi, Stella dan keluarga mencoba berkali-kali untuk melakukan negosiasi dengan pihak klinik karena merasa keberatan dengan permintaan mereka yang bisa menghabiskan dana sangat besar, sedangkan Stella dan keluarga tidak memiliki uang sebanyak untuk memasang iklan permintaan maaf di koran.

Upaya dialog dan negosiasi sudah berkali-kali dilakukan, bahkan Stella sudah mengunggah video permintaan maaf dengan wajah yang masih terdampak perawatan klinik pada akun Instagram pribadi, namun pihak pelapor malah minta video tersebut untuk dihapus.

Pada tanggal 7 Oktober 2020, tiga orang anggota kepolisian dari tim Cyber Crime Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jatim mendatangi rumah Stella dan membawa surat yang menyatakan bahwa status Stella sudah menjadi tersangka.

“Saat ini kasus Stella sudah dilimpahkan ke kejaksaan dan Stella akan segera menjalani sidang atas tuduhan pencemaran nama baik,”

Padahal, Stella sebagai konsumen yang sadar akan hak-haknya seharusnya dilindungi oleh UU 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen.

“Stella punya hak untuk didengar pendapat, dan keluhannya atas barang dan/jasa yang digunakan,”

Team Newsbin Jawa Timur Red.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here