Beranda Barito Selatan “Si Pandai Besi” Bertempur Untuk Bertahan Hidup Di Zaman Serba Robot

“Si Pandai Besi” Bertempur Untuk Bertahan Hidup Di Zaman Serba Robot

115
0

Buntok Newsbin.Com – Zulhaidir yang akrab disapa Izul adalah penduduk asli Buntok, pria sederhana kelahiran 1981 kini genap berusia 39 tahun, Tidak seperti teman teman sebayanya, Izul sejak tahun 2004 memilih menjadi pandai besi sebagai profesi yang ia tekuni sehari-hari. Ya 15 tahun Izul merintis dan membesarkan usahanya dengan penuh sabar. Sebuah profesi yang terbilang langka dan tidak banyak diminati lagi di zaman milenial kini, dimana perkekas peralatan makan, masak, pertanian, perkebunan bahkan pertukangan lebih didominasi hasil produksi pabrik besar, Rabu, (26/02). Newsbin, pada Kamis, 28/02/2020.

Menurut Wikipedia Pandai besi atau Tukang besi adalah orang yang pekerjaannya membuat alat-alat dari besi atau baja, seperti alat-alat bertani : cangkul, arit, kapak, pisau, bendho, bapang, maupun senjata-senjata. Seorang tukang besi secara tradisional biasanya bertempat di dekat pasar umum atau pasar hewan, tempat berkumpulnya para petani di Desa.

Usaha pandai besi yang dikelola oleh Sdr. Izul yang terletak di jalan Pahlawan atas (Raut) No. 34, RT. 045/004, Buntok, Kabupaten Barito Selatan (Barsel), cukup dikenal luas di daerah Kota Buntok, dan Sekitarnya. bukan hanya di kualitas produk, tapi harga adalah konsep yang selalu menjadi pertimbangan utama Izul untuk memberikan pelayanan kepada konsumen, usaha dagang jasa pandai besi Izul tanpa papan nama, bahkan sengaja tidak dibuat dengan alasan keterbatasan kemampuan yang dimilikinya.

Izul sempat mengatakan, “Jujur usaha seperti ini sedikit peminatnya, sehingga susah mencari karyawan untuk membantu saya bekerja, dan tanpa papan nama saja saya sudah kewalahan menerima order dari konsumen, apalagi kalau saya pasang papan nama, pastinya akan sangat kewalahan, pada intinya saya mencoba mengukur diri saja”, Ujarnya sambil menunjukan bahan baku membuat parang yakni dari bekas per mobil, dan bearing berukuran besar.

“Banyak produk dari sini yang dikirim keluar daerah Mas, seperti ke Sorong, Aceh, Bandung, dan sekitar Kalimantan Timur, bahkan hingga Kalimantan Barat”. Ujar Izul sambil mempersiapkan api tungku pemanas untuk membakar besi, dan dijadikan berbagai macam perkekas sesuai permintaan konsumen.

“Sekitar tahun 2006 hingga 2012 banyak dari luar daerah memesan Mandau (Senjata khas suku dayak) namun 4 tahun terakhir mulai berkurang pesanan dengan adanya kebijakan pelarangan pengiriman senjata tajam di maskapai penerbangan”.

Padahal 1 Mandau lengkap dengan aksesorisnya laku dipasaran antara 2 juta hingga 2,5 juta rupiah, kini Permintaan membuat parang, pisau lengkap dengan gagang, dan sarunganya sekitar 100 sampai 200 ribu tergantung bahan, dan design nya, perkekas rumah tangga, dan lain-lain cukup banyak dipesan masyarakat.

“Ya itulah pasang surut dalam bisnis hal yang lumrah terjadi termasuk usaha pandai besi ini.” Tambah Izul.

Saat Team Newsbin menanyakan adakah bantuan dari Pemerintah Daerah untuk usaha yang ditekuninya..??? “Alhamdulillah ada bahkan sampai sekarang tungku pemanas ini lengkap adalah bantuan Pemerintah Daerah Kab. Barsel, oh ya, tempat untuk menempa besi ini juga adalah hibah dari Pemerintah Daerah, tapi sudah lama ya, sekitar 5 atau 6 tahun yang lalu lah”. Jelasnya Izul sambil tersenyum.

“Saya yakin pekerjaan ini akan tetap eksis sampai puluhan tahun yang akan datang, mengapa..??? Karena manusia cenderung mengulang kembali kebiasaan atau tradisi masa lalu meskipun zaman berganti begitu cepat, seperti tran berpakaian lah (fashion)”. Ungkapnya dengan perasaan optimis.

“Suatu saat nanti profesi ini akan diminati, ditekuni oleh generasi muda akan datang sehingga banyak inovasi, kreasi baru yang bisa dikembangkan, hingga karya mereka yang memaksa orang untuk menyukai, membelinya seperti menambahkan corak Khas Suku Dayak misalnya, dalam membuat parang, pisau, mandau, serta peralatan rumah tangga lainya, sentuhan klasik (classic) tersebut bisa membuat pasar baru, dan menciptakan konsumen baru”. Papar seorang ASN yang setia memesan peralatan rumah tangga di tempat Izul, yang juga kebetulan nimbrung berbincang dengan Team Investigasi.

“Dinas Perindustrian, dan perdagangan setempat mestinya jeli melirik home industri seperti pandai besi milik Izul ini, kalau Pemerintah Daerah ikut campur dengan memberikan sentuhan baik dana berupa bantuan peralatan, juga bisa memberikan pelatihan, keterampilan khusus dengan cara membantu biaya kaji banding atau magang ke daerah lain yang berada di Indonesia, yang sudah piawai memadukan etnik kedalam produk mereka seperti Jawa, Bali, misalnya, katakan seperti corak batik di setiap pisau atau parang di Jawa. Juga barang souvenir seperti sarung, dan baju kaos khas Bali yang mereka jual, akhirnya menjadi entitas (red-sesuatu yang memiliki keberadaan yang unik, dan berbeda dari lainya), dan kemudian menjadi brand yang bernilai jual tinggi, ini sangat membantu ekonomi masyarkat kita yang bergerak di sektor home industri atau UKM”. Ditambah kan seorang ASN pelanggan Izul yang tidak bersedia di cantum kan namanya.

“Cukup inisial M sajalah, takut jadi viral nanti”. sambil tertawa, dan berlalu kembali ke tempat kerjanya.

Herman S.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here